Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas pangan kedua setelah padi di Indonesia. Selain sebagai bahan pangan, akhir-akhir ini jagung juga digunakan sebagai pakan ternak. Menurut Suryana et al. (2005), dalam beberapa tahun terakhir proporsi penggunaan jagung oleh industri pakan telah mencapai 50% dari total kebutuhan nasional. Dalam dua puluh tahun kedepan, penggunaan jagung untuk pakan diperkirakan terus meningkat dan setelah tahun 2020 penggunaan jagung untuk kebutuhan pakan diperkirakan lebih dari 60% dari total kebutuhan nasional. Berdasarkan meningkatnya kebutuhan jagung setiap tahunnya, maka budidaya tanaman ini sangat menguntungkan dan mempunyai prospek cukup baik bagi yang mengusahakannya. Pulau Madura merupakan suatu pulau yang berada di wilayah Jawa Timur yang memiliki areal tanaman untuk jagung kurang lebih 360.000 hektar (30 % areal jagung di Jawa Timur), namun produktivitas ditingkat petani masih rendah rata-rata 1,4 ton per hektar (Roesmarkam et al., 2006; Kasryno et al., 2007). Hasil tersebut sangat rendah dibandingkan dengan daerah-daerah penghasil jagung lainnya. Rendahnya produktivitas jagung di pulau Madura disebabkan oleh rendahnya kesuburan tanah dan belum terakitnya jagung unggul untuk Pulau Madura Pulau Madura memiliki areal pertanian sekitar 400 ribu hektar, yang didominasi oleh sawah tadah hujan dengan curah hujan di atas 200 mm selama bulan Desember sampai April, dengan tingkat kesuburan tanah rendah dan produktivitas rendah (BPS, 2007). Secara tradisional petani melaksanakan pola tanam padi sawah pada awal musim hujan diikuti oleh tumpangsari jagung dengan kacang tanah. Pola tanam seperti ini, menyebabkan kurang optimumnya pemanfaatan lahan dan secara otomatis berdampak pada rendahnya produksi dan pendapatan petani. Tiga kabupaten dipulau madura (Sampang, Pamekasan dan Sumenep) sekitar 25 persen dari 270 hektar lahan sawah dan tegalan (BPS, 2007), ditanami tembakau (60 sampai 70 ribu hektar) , baik lahan sawah maupun tegalan (Anonim, 2007), sehingga pada musim panen terjadi melimpahnya produksi yang menyebabkan murahnya harga tembakau, terutama tembakau sawah karena kualitasnya rendah. Pola tanam metode ini menggabungkan penanaman jagung Madura (krajekan) yang berumur pendek (55 hari) dengan jagung hasil rakitan (hibrida = tambin x SK) atau tanaman hibrida lain yang berumur agak panjang 78-90 hari dengan produksi 6 ton lebih. Setelah padi ditanam jagung hibrida Madura dengan jarak tanam antar baris 80 cm dan dalam baris 20 cm. Setelah tanaman jagung hibrida Madura ini berumur 60 hari, selanjutnya dilakukan penanaman jagung krajekan dengan jarak 15 cm dalam barisan dengan jagung hibrida Madura, sehingga jarak antar barisan pada jagung krajekan 50 cm dan antar baris 20 cm.Silahkan klik disini untuk lebih jelasnya
Kamis, 30 Juli 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar