This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 30 Juli 2015

Modul Praktikum Pemulian Tanaman

Pemuliaan tanaman merupakan ilmu yang mempelajari metode untuk merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dengan demikian keberhasilan suatu usaha pemuliaan tanaman akan ditentukan oleh metode yang digunakan, keragaman genetik yang tersedia dan tujuan serta sasaran yang hendak dicapai. Metode pemuliaan tanaman yang digunakan sangat tergantung pada sistem perkembangbiakan tanaman. Ini berkaitan dengan perubahan susunan genetik dari induk kepada keturunannya. Metode pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri berbeda dengan tanaman menyerbuk silang. Perbaikan tanaman melalui prosedur pemuliaan tergantung adanya variasi genetik diantara tanaman dalam spesies yang sama. Keragaman genetik tanaman dapat diperoleh melalui persilangan antar maupun intraspesies, introduksi varietas baru, mutasi buatan, koleksi jenis-jenis lokal dan kerabat lainnya. Pemilihan metode dan penyediaan keragaman genetik disesuaikan dengan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai oleh pemulia. Secara umum tujuan pemuliaan adalah untuk memperoleh atau mengembangkan varietas-varietas baru dengan sifat-sifat tertentu yang lebih baik dari varietas yang sudah ada. Sifat-sifat yang dikehendaki untuk suatu jenis tanaman berkaitan dengan selera konsumen, kebutuhan masyarakat dalam jangka pendek maupun jangka panjang, rencana pengembangan lahan pertanian baru, peningkatan kualitas maupun kuantitas dan pengembangan industri. Untuk lebih jelasnya silahkan download disini

Teknik Penanaman Legowo Jagung

Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas pangan kedua setelah padi di Indonesia. Selain sebagai bahan pangan, akhir-akhir ini jagung juga digunakan sebagai pakan ternak. Menurut Suryana et al. (2005), dalam beberapa tahun terakhir proporsi penggunaan jagung oleh industri pakan telah mencapai 50% dari total kebutuhan nasional. Dalam dua puluh tahun kedepan, penggunaan jagung untuk pakan diperkirakan terus meningkat dan setelah tahun 2020 penggunaan jagung untuk kebutuhan pakan diperkirakan lebih dari 60% dari total kebutuhan nasional. Berdasarkan meningkatnya kebutuhan jagung setiap tahunnya, maka budidaya tanaman ini sangat menguntungkan dan mempunyai prospek cukup baik bagi yang mengusahakannya. Pulau Madura merupakan suatu pulau yang berada di wilayah Jawa Timur yang memiliki areal tanaman untuk jagung kurang lebih 360.000 hektar (30 % areal jagung di Jawa Timur), namun produktivitas ditingkat petani masih rendah rata-rata 1,4 ton per hektar (Roesmarkam et al., 2006; Kasryno et al., 2007). Hasil tersebut sangat rendah dibandingkan dengan daerah-daerah penghasil jagung lainnya. Rendahnya produktivitas jagung di pulau Madura disebabkan oleh rendahnya kesuburan tanah dan belum terakitnya jagung unggul untuk Pulau Madura Pulau Madura memiliki areal pertanian sekitar 400 ribu hektar, yang didominasi oleh sawah tadah hujan dengan curah hujan di atas 200 mm selama bulan Desember sampai April, dengan tingkat kesuburan tanah rendah dan produktivitas rendah (BPS, 2007). Secara tradisional petani melaksanakan pola tanam padi sawah pada awal musim hujan diikuti oleh tumpangsari jagung dengan kacang tanah. Pola tanam seperti ini, menyebabkan kurang optimumnya pemanfaatan lahan dan secara otomatis berdampak pada rendahnya produksi dan pendapatan petani. Tiga kabupaten dipulau madura (Sampang, Pamekasan dan Sumenep) sekitar 25 persen dari 270 hektar lahan sawah dan tegalan (BPS, 2007), ditanami tembakau (60 sampai 70 ribu hektar) , baik lahan sawah maupun tegalan (Anonim, 2007), sehingga pada musim panen terjadi melimpahnya produksi yang menyebabkan murahnya harga tembakau, terutama tembakau sawah karena kualitasnya rendah. Pola tanam metode ini menggabungkan penanaman jagung Madura (krajekan) yang berumur pendek (55 hari) dengan jagung hasil rakitan (hibrida = tambin x SK) atau tanaman hibrida lain yang berumur agak panjang 78-90 hari dengan produksi 6 ton lebih. Setelah padi ditanam jagung hibrida Madura dengan jarak tanam antar baris 80 cm dan dalam baris 20 cm. Setelah tanaman jagung hibrida Madura ini berumur 60 hari, selanjutnya dilakukan penanaman jagung krajekan dengan jarak 15 cm dalam barisan dengan jagung hibrida Madura, sehingga jarak antar barisan pada jagung krajekan 50 cm dan antar baris 20 cm.Silahkan klik disini untuk lebih jelasnya

Teknik Deteksi Keragaman Hayati

Berikut materi kuliah keanekaragaman hayati pada materi teknik deteksi keragaman hayati. Silahkan klik disini

Sistematik Tumbuhan

Untuk materi kuliah mengenai sistematika tumbuhan dapat simak dengan klik disini

Kenekaragaman hayati

Berikut materi pertemuan pertama mata kuliah keanekaragaman hayati. Silahkan klik disini

Teori Heritabilitas

Berikut mengenai teori heritabilitas. Silahkan klik disini

Materi Genetika Sel

Lebih lanjut dan lebih jelasnya monggo klik disini

Materi Genetika Populasi

Berikut penjelasan mengenai genetika populasi. Silahkan klik disini

Materi Genetika kuantitatif

Berikut materi kuliah genetika kuantitatif. Lebih jelasnya silahkan klik disini

Pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri

berikut penjelasan mengenai tanaman menyerbuk sendiri.Silahkan klik disini

Sabtu, 11 Juli 2015

PENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG MADURA
Jagung merupakan komoditas yang sangat penting bagi masyarakat Madura, karena jagung merupakan makanan pokok penduduk Madura dan tanaman ini merupakan salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan oleh petani Madura.  Kondisi lahan pertanian yang mempunyai ketersediaan air dan curah hujan yang kurang, mensyaratkan bahwa tanaman jagung yang ditanam harus mempunyai umur panen yang genjah.  Penanaman jagung berumur pendek (genjah) dapat meningkatkan intensitas penanaman sehingga memungkinkan pola pergiliran jagung-padi-tembakau atau jagung-jagung-tembakau dengan baik. Hasil penelitian Amzeri (2009), bahwa jagung lokal Madura mempunyai umur panen berkisar antara 62 sampai 73 hari.
Jagung lokal Madura mempunyai daya simpan yang lama (kurang lebih 1 tahun) sehingga dapat digunakan sebagai cadangan makanan selama satu tahun.  Berdasarkan hasil penelitian Suhardjo dan Lestari (2006), jagung lokal Madura memiliki kandungan protein dan lemak tinggi masing-masing 11,24 % dan 4,96 % dibanding jagung-jagung hibrida seperti Pioneer 7 (kandungan protein 8,22 % dan kandungan lemak 3,24 %), Pioneer 11 (kandungan protein 8,70 % dan kandungan lemak 3,34%), Bisi 2 (kandungan protein 9,51 % dan kandungan lemak 3,95%) dan Bisi 7 (kandungan protein 10,09% dan kandungan lemak 3,27%).  Kelemahan dari jagung lokal Madura adalah produksi per hektar paling rendah dibandingkan daerah penghasil jagung lainnya di Jawa Timur.
Rendahnya produksi jagung ditingkat petani tersebut disebabkan oleh  kurang suburnya lahan, curah hujan yang cenderung rendah dan sebagian besar benih yang digunakan bukan hasil dari program pemuliaan (baik melalui seleksi atau hibridisasi).  Terdapat beberapa cara untuk memecahkan permasalahan tersebut, diantaranya adalah (1) memperbaiki lingkungan tempat tanaman tersebut tumbuh dan berkembang, (2) merakit suatu varietas yang tahan terhadap cekaman lingkungan biotik maupun abiotik dan mempunyai potensi hasil tinggi yang dihasilkan melalui program pemuliaan. Perbaikan lingkungan tumbuh membutuhkan biaya tidak sedikit, meskipun hal itu dapat dilakukan, namun ada beberapa  faktor alam  yang tidak bisa dikendalikan melalui teknologi yaitu  cuaca dan iklim, sehingga perakitan varietas unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi dan tahan terhadap cekaman lingkungan biotik serta abiotik merupakan solusi tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Menurut Mangoendidjojo (2003), bahwa untuk merakit suatu varietas membutuhkan strategi dalam pemuliaan tanaman agar varietas yang diinginkan dapat tercapai, diantaranya (1) pengenalan tanaman (karakterisasi tanaman), (2) pemilihan bahan pemuliaan (breeding materials), (3) pengenalan pola atau metode pemuliaan yang dipilih, dan (4) pengelolaan.  Karaktersisasi tanaman dan pemilihan bahan pemuliaan  merupakan langkah awal dari perakitan suatu varietas yang diinginkan, sehingga kedua kegiatan tersebut sangat menentukan keberhasilan suatu program pemuliaan tanaman. 
Dalam merakit varietas jagung yang mempunyai potensi hasil  tinggi dan tahan terhadap cekaman lingkungan baik biotik maupun abiotik (terutama tahan terhadap kondisi lahan yang kering)  dibutuhkan bahan pemuliaan (breeding materials) yang cukup banyak  dengan dilengkapi informasi karakter penting dari masing-masing bahan pemuliaan tersebut.  Bahan pemuliaan yang dibutuhkan bisa diperoleh dari kultivar lokal jagung Madura.  Menurut Poespodarsono (1988), bahwa kultivar lokal merupakan bahan pemuliaan yang cukup baik untuk merakit varietas yang tahan terhadap cekaman lingkungan karena kultivar tersebut sudah beradaptasi lama, sehingga mempunyai gen ketahanan terhadap cekaman lingkungan.